Kabar Kalimantan

Wamen ESDM Beri Lampu Hijau Kaltim Methanol Industri (KMI) Serap Gas Blok Masela

SATUMANDAU Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar membuka lampu hijau kepada PT Kaltim Methanol Industri (KMI) menyerap gas dari Blok Masela. Namun, syaratnya harganya harus sesuai dengan keekonomian blok tersebut.

Menurut Arcandra, saat ini harga yang diajukan KMI tidak sesuai dengan keekonomian Lapangan Abadi, Blok Masela. KMI meminta harga US$ 3,25 per mmbtu.

Padahal keekonomiannya di atas itu. “Asumsi kami sekitar US$ 5,8 per mmbtu. Itu fix price.  Kalau KMI mau harga segitu ya silakan,” ujar Arcandra di Jakarta, Selasa (3/7).

Arcandra mengatakan harga gas Masela itu susah turun dari US$ 5,8 per mmbtu. Alasannya, lokasi Lapangan Abadi yang dikembangkan berada di laut dalam.

Selain itu, penurunan harga gas Masela turun bisa mengurangi pendapatan negara. “Kami kan harus seimbang antara hulu dan hilir,” kata Arcandra.

Di sisi lain, General Affairs Director KMI Agus Priyatno mengatakan harga yang ditawarkan perusahaannya itu menggunakan formula bukan fixed price. Kalau formula, bisa jauh diatas US$ 5 per mmbtu,” ujar dia pada Senin (2/7).

Bahkan jika harga itu sepakat, KMI siap membangun pabrik Methanol berkapasitas 5.000 ton per hari di kawasan Masela.  Kapasitas itu lebih besar dari yang dimiliki perusahaan saat ini yakni 2.000 ton per hari.

Kaltim Metanol Industri akan menyerap gas sebesar 100 mmscfd sampai 125 mmscfd. Selain KMI, pernah dikabarkan ada pembeli lainnya, yakni PT Pupuk Indonesia dengan alokasi 214 mmscfd, Elsoro Multi Prima sebanyak 160 mmscfd.

sumber berita