Nusantara

Wacana Pemindahan Ibukota ke Palangkaraya Sudah Sejak Jaman Soekarno, Ini Faktanya!

SATUMANDAU Sebenarnya, wacana pemindahan Ibukota Negara ke Palangkaraya sudah berlangsung sejak jaman Presiden RI pertama, yaitu Soekarno. Dulu, Presiden Soekarno memang pernah merencanakan pemindahan ibukota. Hal ini diakui melalui buku dengan judul ‘Soekarno & Rencana Pemindahan Ibukota di Palangkaraya’ oleh Wijanarka. Kemudian, wacana serupa perihal pemindahan ibukota selain oleh Presiden Soekarno, juga pernah terjadi pada tahun 2010, dalam masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sebagaimana diketahui, pada akhir tahun 2017 ini kembali mencuat wacana pemindahan ibukota. Dalam berbagai pemberitaan, santer disebut bahwa ibukota akan dipindahkan ke luar Pulau Jawa, dengan kandidat tiga daerah sebagai calon kuat. Walaupun dalam pemberitaan tidak disebutkan nama daerah yang menjadi kandidat, namun dikatakan bahwa pengkajian tentang hal tersebut direncanakan rampung pada akhir tahun 2017 ini.

Dalam berbagai kajian, Kota Palangkaraya disebut sangat cocok untuk dijadikan ibukota baru menggantikan DKI Jakarta. Ada beberapa fakta yang sudah banyak beredar mengenai Palangkaraya. Pertama, tidak ada gunung berapi di sekitar kota ini. Dengan demikian, relatif aman dari risiko gempa vulkanik. Kedua, jauh dari laut sehingga mengurangi risiko terkena bencana akibat tsunami. Fakta ketiga, Kota Palangkaraya sangat aman dari risiko gempa tektonik, karena tidak ada patahan ataupun pertemuan kerak bumi dibawahnya. Hal ini juga didukung fakta data peta gempa 2010 yang mengatakan juga bahwa kota Palangkaraya merupakan kota yang paling aman dari gempa.

 

 

Ketiga fakta tersebut menjadi salah satu acuan dalam hal keamanan terhadap bencana .Dan berdasarkan ketiga fakta tersebut, dapat dikatakan bahwa Kota Palangkaraya termasuk dalam kategori sangat aman dari risiko bencana alam.

Sebagaimana diketahui, laju penurunan tanah di DKI Jakarta sudah sangat mengkhawatirkan. Bahkan, ada yang menyebutkan bahwa 40 persen bagian dari permukaan tanah Jakarta sudah berada dibawah permukaan air laut. Berdasarkan fakta ini, Ibukota Jakarta terancam tenggelam, sehingga ada urgensi agar ibukota segera dipindahkan. Hal yang sama dikemukakan oleh Walhi  (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia).

Pemusatan kegiatan yang dikerjakan di Jakarta, mengakibatkan penumpukan penduduk akibat arus urbanisasi yang tidak terbendung. Hal ini berdampak kepada hal yang lain. Kepadatan yang luar biasa juga mengakibatkan kemacetan yang semakin menggila. Berdasarkan catatan, hampir sebanyak Rp 30 triliun dikucurkan penduduk di wilayah Jakarta untuk bahan bakar (BBM). Jelas sebuah pemborosan akibat kemacetan tersebut.

Berbagai pertimbangan tersebut sudah seharusnya menguatkan wacana pemindahan ibukota agar segera dipindahkan, dan dengan kandidat terkuatnya, yaitu ke Palangkaraya. Bila berkaca pada pengalaman negara lain, dan ditambah dengan pertimbangan jangka panjang, maka tidak menutup kemungkinan apabila benar-benar dipindahkan, Ibukota Indonesia dapat lebih maju dengan ibukota yang baru. Hal yang sama juga dilakukan oleh negara lain, seperti yang dilakukan olej Turki dengan memindahkan ibukotanya dari Istanbul ke Ankara, dan juga Australia yang memindahkan ibukota dari Sydney ke Canberra.

Jadi? Bersiaplah bila kajian tersebut sudah selesai dan dilaporkan kepada Presiden Jokowi, dan setelahnya mungkin akan ada pengumuman tentang hasil tersebut. Semoga dalam waktu yang tidak terlalu lama akan terjawab, apakah pemindahan ibukota masih sekedar wacana, atau akan segera menjadi kenyataan. [ ### ]