Kabar Kalimantan

Tangis dan Permintaan Maaf Dalam Pledoi Rita Widyasari

SATUMANDAU – Bupati Kutai Kartanegara nonaktif Rita Widyasari membacakan nota pembelaan atau pleidoi atas tuntutan 15 tahun penjara. Sambil menangis tersedu-sedu, Rita meminta maaf.

Rita membacakan pembelaannya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat, kemarin, 2/7/2018. Ia meminta maaf pada seluruh pihak yang selama ini telah mendukungnya.

“Kepada suami saya, saya terima kasih, yang telah bersabar dan membimbing anak saya. Semoga kelak anak saya dapat berjuang bersama yang akan datang,” harap Rita.

Ia juga menyampaikan kekecewaannya terhadap orang-orang yang dianggap sebagai saudara dan sahabat. Rita meminta maaf kepada masyarakat Kukar.

“Saya menyadari sepenuhnya sebagai seorang manusia biasa banyak kesalahan yang saya perbuat, baik keluarga saya, teman-teman saya, rekan tempat saya bekerja sebelumnya, serta masyarakat Kukar pada umumnya. Untuk itu, sebelumnya saya menyampaikan nota pembelaan ini, saya mohon maaf sebesar-besarnya atas kesalahan saya selama ini,” kata Rita.

Ia menyebut, tidak lupa permohonan maaf disampaikan kepada masyarakat Kutai Kartanegara tempat dirinya mengabdi. “Semoga kejadian yang dialami diri saya menjadi perhatian dan pelajaran bersama dan tidak pernah terjadi lagi seperti ini di masa akan datang di Kutai Kartanegara,” tutur Rita.

Ia menyanggah tuduhan jaksa KPK yang menyebutnya meminta uang terkait pengurusan proyek di Kukar.

“Dari cerita perjuangan saya sebagai kepala daerah, saya memang pernah meminta teman-teman Golkar menjaga dan membantu saya dalam roda pemerintahan. Tapi catat, Yang Mulia, bukan meminta uang fee atau setoran atau proyek-proyek di Kukar,” tegas Rita.

Rita mengaku kecewa terhadap tuntutan jaksa sangat tinggi, yakni 15 tahun. Padahal, menurutnya, perbuatan itu tidak dilakukan.

“Ketika saya membaca tuntutan JPU, jujur, rasanya sedih dan saya mau pingsan. Tapi saya simpan dalam hati. Bagaimana mungkin saya menerima uang sebanyak Rp 200 miliar lebih. Saya mencoba ingat-ingat kembali, dan itu semua tidak benar. Saya menjerit atas nama keadilan. Saya menjerit sekuat yang saya mampu,” ujarnya.

Ia melanjutkan, “Saya memang dekat dengan Khairudin sebagai teman, sahabat, dan penasihat. Chat-chat saya dengan Khairudin yang ditunjukkan JPU tidak membuktikan saya memerintahkan Khairudin untuk mengambil fee-fee proyek. Itu hanya membuktikan kedekatan saya, dan foto-foto dalam dakwaan dan tuntutan adalah foto-foto kegiatan yang ada di FB saya. Itu juga tak membuktikan saya memerintahkan Khairudin, Junaedi, Andi Sabrin untuk mengambil fee proyek,” imbuhnya.

Rita dituntut 15 tahun penjara dan denda Rp 750 juta subsider 6 bulan kurungan. Ia juga dituntut pencabutan hak politik selama lima tahun, tidak boleh menjabat apapun. Rita diyakini menerima uang gratifikasi Rp 248 miliar terkait perizinan proyek pada dinas Pemkab Kukar.

Sedangkan Khairudin juga dituntut 13 tahun penjara, denda Rp 750 juta dan subsider 6 bulan kurungan. Hak politik Khairuddin juga dicabut selama lima tahun.

sumber berita