Kabar Kalimantan

Soroti Delay Penerbangan ke Ketapang, Legislator Golkar Kalbar Kritik Keras Pelayanan Wings Air

SATUMANDAU – Delay penerbangan sepertinya bakal jadi makanan hari-hari masyarakat Kalbar. Menyusul Sriwijaya Air SJ-108 sehari sebelumnya, pada Minggu (29/4), penumpang pesawat Wings jurusan Ketapang juga diturunkan dari pesawat. Namun, kali ini lebih parah sebab penerbangan ditunda sehari.

Alhasil, 71 penumpang itu meradang di Bandara Internasional Supadio Kubu Raya. Terang saja penumpang dibuat kecewa. Sebab, semula pesawat akan diterbangkan ke kota Ale-Ale itu pada pukul 12.10 WIB. Sampai waktunya, penumpang tetap menunggu di lantai 3 Gate 4. Pukul 13.30, diumumkan kalau penerbangan ditunda hingga pukul 15.45. Penumpang diberikan roti dan air mineral sambil menunggu waktu yang dijanjikan.

Begitu waktu yang dijanjikan tiba, penumpang diarahkan masuk menuju pesawat Wings. Setelah penumpang naik, dan pesawat bergerak menuju posisi take off, entah kenapa tiba-tiba pesawat kembali ke posisi parkir. Seluruh penumpang diminta turun, kembali ke area tunggu Bandara dengan alasan kesalahan teknis.

Penumpang yang naik ke pesawat itu, diantaranya ada pejabat eksekutif dan legislatif. Ada Asisten I Setda Pemkab Kayong Utara, Syarif Muzahar, dan anggota DPRD Provinsi Kalbar, Irvan Masyad. Penumpang lainnya, selain berangkat dari Pontianak, banyak juga transit dari Bandung, Surabaya, dan lainnya.

Penumpang gerah. Ingin ada kepastian, ramai-ramai menuju loket Wings di Bandara. Ada dua petugas wanita di loket Wings. Masing-masing penumpang bertanya, namun kedua wanita itu hanya diam tanpa jawaban pasti. “Kalau anda tidak bisa jawab, antarkan kami ke manajemen. Jangan biarkan kami terlantar, kami sudah bayar,” kata suara penumpang yang ramai mulai emosi akibat delay yang tidak jelas ini.

Melihat suasana semakin ramai, seorang pria mewakili manajemen Wings datang menghadapi penumpang. Para penumpang justru dibuat tambah emosi. Karena, kehadirannya tidak bisa membuat keputusan kapan mereka akan diberangkatkan. “Anda siapa, anda bisa ambil keputusan tidak. Kalau tidak, percuma,” sahut penumpang lainnya ke petugas.

Pria yang memegang HT di tangannya itu langsung pergi dan minta ijin sebentar untuk menghubungi manajemen. Tak lama kemudian, pria yang sama kembali datang dan mengumumkan keberangkatan ditunda hingga Senin (30/4). “Maaf bapak dan ibu, penerbangan ke Ketapang dicancel dan baru akan diterbangkan besok. Manajemen bertanggung jawab dengan menyiapkan penginapan,” kata pria yang mewakili manajemen Wings.

Kendati sudah disikapi pihak Wings, penumpang yang sudah merasa dirugikan atas waktu molor panjang akibat delay, tetap minta uang dikembalikan. Masing-masing penumpang antre mengambil uang tiket di kantor Wings. Di sisi kanan Bandara hingga pukul 17.30.

Selain uang tiket dipulangkan, ditambah biaya kompensasi. Ini khusus bagi konsumen yang tidak meneruskan penerbangan ke Ketapang bersama Wings. Dan bagi penumpang yang tetap akan terbang Ketapang bersama Wings tidak dikembalikan uang tiket dan hanya dapat kompensasi Rp 300 ribu plus penginapan. Pengembalian uang pun tak berjalan mulus. Pihak Wings yang semula menginformasikan penginapan, membatalkan menyediakan penginapan jika penumpang beralih dengan pesawat lain.

Anggota DPRD Provinsi Kalbar, Irvan Masyad, yang semula diam tak mengenalkan diri, akhirnya mengeluarkan pernyataan tegas. “Saya anggota DPRD Provinsi, dari tadi saya diam, anda tau aturan, baca coba aturan Perhubungan Udara, supaya anda tahu soal tanggung jawab, jangan selalu penumpang dirugikan, harus adil buat keputusan,” tegas anggota Komisi IV DPRD Provinsi Kalbar ini.

Legislator Partai Golkar ini mengaku transit di Bandara Soepadio Pontianak dari Jakarta menuju Ketapang. Ia berharap, pengelola maskapai lebih meningkatkan pelayanan. “Kalaupun tidak bisa berangkat, jelaskan dan terbuka sama penumpang dan jangan penumpang dibuat terkatung-katung,” kesalnya.

Dia mengakui, kebijakan Wings dalam menanggulangi hak konsumen bertentangan dengan aturan. Sebab, kata dia, jika terjadi kegagalan atau penundaan sepenuhnya tanggungjawab pihak maskapai. “Konsumen tidak boleh diatur mau terbang pakai maskapai apa. Namun tanggung jawab maskapai terhadap konsumen wajib selama penundaan tersebut,” jelas Irvan.

 

sumber berita