Kabar Kalimantan

Sengit Nih! Pilkada Palangka Raya 2018, Ajang Pertarungan Golkar dan PDIP

SATUMANDAU Menurut perkiraan, Pilkada pada Juni 2018 nanti akan menjadi ajang sengit pertarungan antara Partai Golkar dan PDIP. Pertarungan memperebutkan kursi puncak kepemimpinan di ‘Kota Cantik’, julukan bagi Kota Palangka Raya, ibukota Provinsi Kalimantan Tengah.

Setelah pendaftaran pasangan calon resmi berakhir pada akhir hari Rabu (10/1/2018), publik pun mengetahui bahwa ada delapan pasangan bakal calon (balon) Kepala Daerah Kota Palangka Raya. Delapan pasangan tersebut akan memperebutkan kursi kepemimpinan di ibukota Kalimantan Tengah telah melakukan proses pendaftaran pasangan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Palangka Raya.

Jika dirinci lebih lanjut, dari delapan pasangan yang mendaftar tersebut, lima pasangan calon mendaftarkan diri melalui jalur perseorangan atau independen. Sementara, tiga pasangan lainnya mendaftar dengan dukungan partai politik (parpol). Proses berikutnya yang harus dilalui oleh delapan pasangan calon tersebut adalah mengikuti tahapan pemeriksaan kesehatan.

Namun, ternyata hanya empat pasangan yang sudah memastikan diri memenuhi persyaratan KPU setempat. Sementara, empat pasangan tersisa masih harus menjalani verifikasi susulan. Menurut Eko Riadi, keempat pasangan susulan tersebut berasal dari jalur independen. “Empat pasangan yang masih harus menjalani verifikasi susulan, yakni Rizky Mahendra-Daryana, Dagut-Fitriadi, Yuliustry-Fathul Munir dan Nampung-Budi Santoso. Keempatnya maju dari jalur perseorangan,” demikian Eko Riadi yang menjabat Ketua KPU Kota Palangka Raya, menjelaskan.

Keempat pasangan calon yang memenuhi persyaratan KPU Kota Palangka Raya adalah, pasangan Rusliansyah-Rogas Usup dari jalur independen, pasangan Fairid Naparin-Umi Mastikah diusung Partai Golkar, Partai Demokrat, PAN dan PPP. Pasangan ketiga adalah Tuty Dau-Rahmadi MN yang diusung Partai Nasdem, Partai Gerindra, dan PKB. Pasangan terakhir yakni Aries Marcorius Narang-Akhmad Fawzy Bachsin yang merupakan jagoan PDIP.

Uniknya, keempat pasangan calon yang telah memenuhi persyaratan KPU Palangka Raya sebagai peserta Pilkada 2018 ini didominasi kader Partai Golkar dan PDIP. Terlihat, pertarungan dari dua partai besar tersebut akan berlangsung sengit memperebutkan posisi Waki kota dan Wakil Wali kota dari ‘Kota Cantik` ini.

Sebagai informasi, Rusliansyah dan Fairid Naparin, keduanya adalah kader Partai Golkar. Sementara, Tuti Dau dan Aries M Narang merupakan kader dari partai berlambang banteng moncong putih, PDIP.

Rusliansyah memegang jabatan sebagai Ketua DPD II Partai Golkar Palangka Raya yang terpaksa harus mundur karena bersikeras untuk tetap maju dari jalur independen sebab partainya mendukung sosok lain. Calon berikutnya, yaitu Fairid Naparin yang berpasangan dengan Umi Mastikah memegang jabatan sebagai Bendahara DPD I Partai Golkar Kalteng. Fairid Naparin juga merupakan putra tunggal dari Abdul Razak, tokoh golkar Kalteng yang pernah menjabat Ketua Partai Golkar Provinsi Kalteng selama dua periode.

Bagaimana dengan kader moncng putih? Tuti Dau tercatat pernah menjadi anggota DPRD Provinsi Kalteng pada periode 2009-2014 yang mewakili PDIP. Tuti Dau bahkan pernah diusung oleh PDIP pada perhelatan Pilkada Palangka Raya tahun 2013. Sementara, Aries M Narang sampai sekarang masih tercatat sebagai pengurus DPD PDIP Kalteng, yang juga merupakan putra sulung tokoh PDIP Kalteng, Renhard Atu Narang. Renhard Atu Narang adalah Ketua DPD PDIP Kalteng sekaligus Ketua DPRD Kalteng.

Menurut perkiraan pengamat politik Jhon Aprisandi, empat pasangan tersisa tidak akan lolos verifikasi susulan, sehingga Pilkada Palangka Raya hanya diikuti oleh empat pasangan saja. “Perkiraan saya, Pilkada Kota Palangka Raya tahun 2018 hanya diikuti empat pasangan calon dan akan berlangsung sangat kompetitif. Komposisi perolehan suaranya pun akan sangat ketat,” demikian perkiraan Dr Jhon Aprisandi, pengamat politik Kalteng yang juga merupakan Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Palangka Raya.

 

Membaca Peta Kekuatan Dukungan

Satu pasangan jalur independen yang telah lolos verifikasi adalah pasangan Rusliansyah-Rogas Usup. Namun, walaupun maju dari jalur independen, jangan remehkan pasangan ini. Rusliansyah-Rogas Usup memiliki kekuatan mengandalkan hubungan atau kedekatan dengan Riban Satia, yang merupakan Wali Kota Palangka Raya selama dua periode dan baru akan berakhir Oktober 2018. Kekuatan kedua adalah bentuk dukungan gabungan Muslim-Kristen dan Banjar-Dayak.

“Kita tidak menyatakan bahwa Wali Kota sekarang ini melakukan kecurangan. Tidak. Dalam konteks analisis, tidak mungkin, tidak ada keberpihakan politik,” kata Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Palangka Raya, Dr Jhon Aprisandi.

Pasangan yang diusung oleh Partai Golkar, Fairid Naparin-Umi Mastika memiliki kekuatan jaringan yang cukup baik di tingkat provinsi Kalteng. Gubernur Kalteng Sugianto Sabran dan Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kalteng Agustiar Sabran, dan tokoh berpengaruh sekaligus Pengusaha sukses Kaleng, Abdul Rasid memiliki hubungan kekeluargaan dengan Fairid Naparin. Jadi, sepertinya, ketiga tokoh berpengaruh tersebut akan mendukung pemenangan pasangan Fairid Naparin-Umi Mustikah.

Kekuatan lainnya yang mendukung pasangan ini berdasarkan representasi pasangan muslim-muslim dan Dayak-Jawa. Dengan demikian, konsentrasi basis massa pendukung akan berpusat kepada pemilih muslim yang memang lebih banyak di Kota Palangka Raya. “Saya melihat Rusliansyah-Rogas Usup dan Fairid-Umi sama-sama pasangan calon kuat yang patut diperhitungkan,” kata Jhon.

Pasangan berikutnya yang juga wajib diperhitungkan adalah pasangan Tuti Dau-Rahmadi MN. Dengan pengalaman mengikuti Pilkada Kota Palangka Raya tahun 2013 menghadapi Petahana waktu itu, yaitu Riban Satia, Tuti Dau kalah dengan selisih suara yang sedikit saja. Pengalaman ini seharusnya menjadi modal penting, karena pasti telah memiliki pendukung fanatik di kalangan akar rumput.

Masalahnya sekaligus tantangan bagi Tuti Dau adalah bagaimana menghidupkan kembali dukungan dari para fans fanatik di akar rumput tersebut. Rahmadi MN yang notabene beragama Islam dan suku Banjar serta berlatarbelakang Birokrat harus mampu mengoptimalkan latarbelakangnya tersebut untuk mengoptimalkan pendulangan suara.

Pasangan Aries M Narang-Akhmad Fauzi Bachsin adalah pasangan yang resmi diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) juga memiliki kekuatan`mesin partai` yang solid. sebagaimana diketahui, Kota Palangka Raya merupakan basis kuat PDIP di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Keunggulan kedua dari pasangan Aries M Narang-Akhmad Fauzi Bachsin ini pernah menduduki jabatan strategis di Kota Palangka Raya termasuk Kalteng. Selain itu, Akhmad Fawzy Bachsin merupakan Ketua Pimpinan Wilayah Nahdatul Ulama (PWNU) Kalteng. “Sekarang ini tinggal bagaimana adu stategi sewaktu berkampanye meyakinkan pemilih, dan pengamanan suara. Pengamana suara itu pun penting diperhatikan,” demikian Jhon membaca peta kekuatan dan persaingan di Kalteng.

Hindari Isu SARA, Utamakan Program

Di tempat terpisah, seluruh pasangan yang akan berlaga di Pilkada Palangka Raya diingatkan dan diminta agar tidak memolitisasi sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Peringatan dan himbauan ini dutjukan kepada tim pemenangan dan para peserta Pilkada 2018 “Biarkan masyarakat nanti memilih dengan bebas, rahasia dan tertutup. Kami harap seluruh kandidat tak gunakan politik praktis yang bernuansakan SARA dalam proses pilkada,” kata Ketua DPRD Kota Palangka Raya, Sigit K Yunianto.

Sementara itu, Abdul Razak yang merupakan Wakil Ketua DPRD Kalteng, mengingatkan bahwa suhu politik menjelang pemilihan Kepala Daerah di 11 Kabupaten/kota boleh memanas, namun jangan sampai hati ikut panas karena akan berdampak pada persatuan dan kesatuan.

Abdul Razak mengatakan semua calon yang maju pada Pilkada tentunya warga negara Indonesia yang ingin mengabdikan hidupnya melayani masyarakat, sehingga dalam menentukan pilihan tidak perlu melihat latarbelakang SARA. “Kita ini kan satu, jadi rasa kebersamaan harus tetap dipupuk. Jangan karena pilkada terjadi hal-hal yang tentunya tidak ingin kita rasakan terjadi. Suhu politik naik itu wajar, di daerah manapun itu. Tapi hati jangan ikutan panas,” demikian Abdul Razak mengingatkan kepada seluuh peserta Pilkada, tim pemenangan dan masyarakat Palangka Raya dan Kalteng. [@@]