Nusantara

Rupiah Tumbang, Waspadai Utang Pemerintah

SATUMANDAU –Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah. Bahkan, rupiah sempat melemah hingga menyentuh 14.840 terhadap Dolar AS pada Jumat tengah malam. Ini merupakan posisi terendah rupiah terhadap dolar sejak Juli 1998, setelah krisis keuangan melanda Asia.

Pelemahan nilai tukar ini dinilai tidak hanya beresiko kepada para pengusaha, melainkan juga bagi pemerintah, terutama dalam pembayaran utang jatuh tempo.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bima Yudhistira menilai pelemahan rupiah ini sudah diluar fundamentalnya.

“Jelas beresiko ke utang. Selisih kurs yang ditanggung pemerintah muncul saat pembayaran kewajiban jatuh tempo utang,” katanya, Sabtu (1/9/2018).

Dia memaparkan, berdasarkan data SULNI BI, kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo di 2018 mencapai USD 9,1 miliar yang terbagi menjadi USD 5,2 miliar pokok dan USD 3,8 miliar bunga.

Jika menggunakan kurs 13.400 sesuai APBN maka pemerintah wajib membayar Rp 121,9 triliun. Sementara dengan kurs sekarang di kisaran 14.700 beban pembayaran menjadi Rp 133,7 triliun.

“Jadi kalau tidak dikendalikan (rupiah) selisih pembengkakan akibat selisih kurs sebesar Rp 11,8 triliun. Uang Rp 11,8 triliun setara 20 persen dari alokasi dana desa. Seharusnya bisa dibuat belanja produktif tapi malah habis untk bayar selisih kurs. Itu kerugian bagi APBN,” tegas Bima.

Hal yang sama juga diungkapkan Direktur Eksekutif Economic Action (ECONACT) Indonesia Ronny P Sasmita. Menurut Ronny, nilai tukar rupiah saat ini tidak lagi dipengaruhi murni faktor global, melainkan juga kombinasi dengan dalam nageri.

“Ini sudah perpaduan tekanan ekternal dan internal. Internalnya bisa dilihat dari neraca dagang, neraca pembayaran, dan transaksi berjalan minus,” tambahnya.

“Yang harus dilakukan pemerintah adalah fokus pada penguatan rupiah agar bertahan di harga fundamentalnya. Ya fundamentalnya di kisaran 14.500 per dolar AS menurut saya,” pungkas Ronny.

Ini Penyebab Rupiah Sentuh Level Terendah

Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ke level terendah dalam tiga tahun pada Jumat pekan ini. Bahkan mata uang rupiah sentuh level terendah sejak krisis keuangan Asia pada 1998.

Hal tersebut mendorong bank sentral untuk meningkatkan upaya intervensi di pasar obligasi dan valuta asing.

Berdasarkan data Reuters, rupiah sentuh level 14.730 per dolar AS atau turun 0,3 persen dari level terendah sejak September 2015. Selain itu, rupiah juga sentuh posisi terendah 14.839 per dolar AS pada Jumat 31 Agustus 2018.

Mata uang negara berkembang tertekan termasuk rupiah dalam beberapa hari terakhir termasuk lira Turki dan peso Argentina. Penguatan mata uang AS telah meningkatkan kekhawatiran atas kemampuan negara berkembang untuk melunasi utang dalam dolar AS.

Mengutip laman FT, Sabtu (1/9/2018), campuran data perdagangan yang melemah dan utang luar negeri relatif tinggi terhadap pasar Asia lainnya membuat rupiah rentan terhadap volatilitas mata uang negara berkembang.

Indonesia, salah satu dari sedikit negara di kawasan ini yang alami defisit transaksi berjalan pada Juli naik menjadi USD 2,03 miliar. Angka ini tertinggi dalam lima tahun. Termasuk utang luar negeri juga menekan mata uang.

Heaf of Macro Strategi Asia Westpac, Frances Cheung menuturkan, nilai tukar rupiah alami depresiasi, ketika pasar obligasi tidak begitu baik sehingga berisiko aliran modal keluar. Reuters melaporkan Bank Indonesia (BI) secara tegas intervensi baik di pasar obligasi dan valuta asing untuk membantu atasi tekanan pasar.

Analis Nomura, Dushyant Padmanabhan menuturkan, intervensi bank sentral merupakan solusi jangka pendek yang efektif.  Di sisi lain, beberapa investor obligasi tetap yakin dengan komitmen bank sentral untuk stabilkan pasar usai kebijakan moneter yang ketat pada 2018.

Bank sentral telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 125 basis poin menjadi 5,5 persen sejak Mei. ING harapkan BI menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin pada 2018 dan 2019.

Ekonom ING, Robert Carnell menuturkan, China melemahkan mata uangnya yuan untuk atasi rencana Presiden AS Donald Trump memberlakukan tarif impor barang China senilai USD 200 miliar juga menambah tekanan terhadap rupiah. “Anda tidak perlu khawatir tentang Indonesia,” ujar Carnell.

Eric Wong, Manager Portofolio Fidelity menuturkan, pihaknya ingin tambah portofolio di Indonesia dengan fokus pada obligasi berdenominasi dolar AS.

sumber berita