Nusantara

Polemik Aturan Impor Garam Industri

SATUMANDAU Presiden Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 9 Tahun 2018 terkait garam industri. Salah satu hal yang diatur dalam PP tersebut adalah soal rekomendasi impor garam industri. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution menjelaskan, rekomendasi garam impor sebelumnya memang berada di Kementerian Perindustrian (Kemenperin).

Namun, dua tahun terakhir rekomendasi tersebut beralih ke Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Dengan adanya PP tersebut, kini rekomendasi impor garam industri dikembalikan ke Kemenperin. “Ada dua, UU Kelautan mengatakan rekomendasi pergaraman itu di KKP, tapi kan dipihak lain UU Perindustrian, kepentingan dan kewenangan Kemenperin. Presiden mengeluarkan PP sebagai kepala pemerintahan, kewenangan memberi rekomendasi untuk impor garam industri itu adalah kewenangan Menteri Perindustrian,” jelas dia.

Namun demikian, Wakil Ketua Komisi IV DPR, Viva Yoga, menuturkan PP Nomor 9 Tahun 2018 berpotensi melanggar UU Nomor 7 Tahun 2016. Dia menilai, pemerintah membuat norma baru dengan terbitnya PP Nomor 9 Tahun 2018 tersebut. Selain itu terjadi perubahan kewenangan impor pada Kementerian Perindustrian terutama garam industri bahan baku dan penolong. Viva juga mengkhawatirkan garam impor industri berpotensi merembes ke pasar.

“PP harus diterbitkan tanpa membuat norma baru. PP Nomor 9 Tahun 2018 ini buat Permen baru, yakni dengan mengubah otoritas KKP ke Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Ini berpotensi langgar Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016,” ujar dia di Gedung DPR, Jakarta, Senin (26/3). Namun menurut Darmin, hak kewenangan memberikan rekomendasi pada UU Nomor 7 Tahun 2016 hanya menyebutkan soal pergaraman.

Dengan PP baru ini dipertegas kembali menjadi khusus impor garam industri hak rekomendasinya dari Menteri Perindustrian. “Kalau di UU kelautan itu kan bilangnya pergaraman, khusus garam industri rekomendasinya dari menteri perindustrian. Masa presiden tidak berwenang,” jelas dia. Dengan begitu, kata Darmin, PP yang sudah diteken oleh Presiden Jokowi dan masuk dalam proses diundangkan ini tidak melanggar, dan rujukannya tetap mengacu pada dua UU antara KKP dan Kementerian Perindustrian. 

“Dua-duanya dipakai tetap, kita tetap bilan UU KKP, menimbangnya UU kelautan, UU Perindustrian.” Di lain hal, Menko Darmin menilai data impor garam industri tahun 2018 sebanyak 3,7 juta ton sudah tepat. “Dari KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) bilang 2,2 juta ton lalu Kementerian Perindustrian 3,7 juta ton. Saya tanya, data KKP dari mana, dari BPS (Badan Pusat Statistik).

Saya tanya ke BPS sebenarnya berapa, ternyata 3,7 juta ton,” kata Darmin. Darmin membandingkan data yang dipaparkan oleh Kementerian Perindustrian dengan data dari KKP, hingga akhirnya memutuskan untuk menggunakan data dari Kemenperin yang sama dengan data BPS mengenai kebutuhan garam industri dalam rencana impor tersebut.

 

sumber berita