Kabar Kalimantan

Pengembangan Energi Terbarukan Cocok untuk Kalimantan

Keterangan gambar: Ir Hudoyo, Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia bidang Energi memukul gong meresmikan raker Ekoregion Kalimantan di Hotel Novotel Balikpapan pada Selasa (2/5/2018)

 

 

SATUMANDAU – Pengembangan ekonomi berkelanjutan yang memanfaatkan sumber daya alam terbarukan, Kalimantan sangat cocok mengembangkan industri energi yang berbasis perkebunan sawit. Ini biasa disebut dengan energi bioetanol.

Saat berkunjung ke Kota Balikpapan, Ir Hudoyo, Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, menyatakan, negara Indonesia termasuk beberapa provinsi yang ada di Kalimantan mengejar target penggunakan energi terbarukan sampai 23 persen di tahun 2025. Penggunaan energi dari fosil yang tidak terbarukan telah dianggap bukan lagi sebagai tren tantangan zaman modern.

Kalimantan perlu mengejar, menggalakkan ekonomi berkelanjutan melalui energi yang terbarukan. “Bencana tumpahan minyak, suka atau tidak suka berasal dari energi fosil yang tidak terbarukan. Dampak tumpahan minyak mencemari mangrove, buat sengsara biota perairan laut, nelayan juga kena imbas,” ujarnya di loby Hotel Novotel Balikpapan pada Selasa (2/5/2018).

Melihat karakateristik Pulau Kalimantan yang memiliki daratan luas, sangat berpotensi mendapatkan energi dari hasil perkebunan kelapa sawit. Pengembangan energi terbarukan berupa geotermal di Kalimantan juga mustahil dilakukan karena di Kalimantan tidak ada gunung berapi. “Yang paling cocok buat di Kalimantan membuat bioetanol. Penggunaan izin kawasan hutan tanaman industri untuk bioetanol sudah bisa dilakukan,” kata Hudoyo.

Kepala sawit mengandung selulosa dan hemiselulosa yang mampu dialihkan sebagai sumber energi baru dan terbarukan khas dari Pulau Kalimantan. Dia pun menyadari sampai sekarang masih sulit mencari investor yang membangun industri energi terbarukan berupa bioetanol mengingat secara hitungan bisnis, investasi di bidang ini sangat besar, butuh banyak modal, namun pengembalian keuntungan penjualan sangat kecil.

“Ongkos produksi membuatnya lebih tinggi dibandingkan harga jualnya. Mereka pernah para investor ada yang usulkan diberi subisidi dan instentif tapi pemerintah menolak. Sama saja membebani APBN,” tegasnya. Karena itu sekarang ini sedang dicari formula yang tepat untuk menggaet para investor untuk mau mengembangkan industri energi terbarukan.

Hal ini sudah dilakukan meski dalam tahap perencanaan untuk langkah jangka ke depan supaya target swasembada energi terbarukan negara Indonesia bisa tercapai. “Orang yang sudah terdesak biasanya kreatif. Itulah kenapa sengaja pemerintah memang tidak akan memanjakan memberikan subisidi, biar ada kreativitas,” tuturnya.

 

sumber berita