Nusantara

Online to Offline (O2O), Pasar Incaran yang Empuk

SATUMANDAU Bisnis bergerak dengan cepat. Beradu kelebihan untuk menyedot pengiklan atau sponsorship sudah menjadi hal yang mutlak dilakukan. VIVA Group, khususnya ANTV, boleh dibilang tegap saat ini. Namun, apa lagi yang akan dilakukan agar stamina bisnis terjaga dan selalu tegap?

Ruang teater Ciputra Artpreneur tampak penuh oleh ratusan orang malam itu (6/12/2017). Ratusan orang yang berasal dari berbagai agensi iklan, rekanan bisnis, dan para pegawai ANTV memenuhi ruang tersebut. Inilah salah satu momen penting yang tidak dilewatkan oleh ANTV untuk “menjual diri” di depan para kepanjangan tangan pengiklan ini.

Di depan ratusan orang tersebut, Anindya N. Bakrie, sang Presiden Komisaris ANTV yang juga Presiden Direktur Viva Group, meyakinkan bahwa industri pertelevisian akan semakin menarik pada tahun 2018. Program-program baru akan selalu disajikan kepada masyarakat Indonesia. Apalagi, akan ada sejumlah agenda besar yang siap menggelorakan bisnis Tanah Air, seperti ajang Asian Games, Pilkada, pada tahun 2018.

Sejauh ini, teve memang masih menjadi medium yang sangat menarik bagi pengiklan di Indonesia. Menurut informasi dari Nielsen Indonesia, kontributor utama untuk pertumbuhan belanja iklan masih dari media teve yang menyumbang 80% dari total nilai belanja iklan.

“Nilai belanja iklan teve yang kami laporkan selama ini hanya memperhitungkan iklan-iklan yang tayang di jeda iklan. Sementara itu, ada bentuk iklan teve lain, yang masih belum dimasukkan dalam pelaporan. Jadi, masih ada aktivitas iklan di teve yang belum terkuantifikasi nilainya,” ungkap Hellen Katherina, Executive Director, Head of Media Business, Nielsen Indonesia.

Artinya, nilai iklan maupun noniklan yang menjadi pendapatan perusahaan media, termasuk yang diperoleh VIVA Group, akan lebih besar lagi. Sebut saja, ANTV banyak menggelar kegiatan di berbagai daerah untuk mempertemukan artis-artis idola dengan masyarakat, sekaligus mendekatkan program-program yang mereka miliki. Bukan tanpa sponsor mereka keliling ke daerah-daerah. Banyak sponsor yang siap terjun ke kerumunan yang dikumpulkan oleh ANTV.

Menurut Anindya, ANTV bukan sekadar perusahaan penyiaran, tapi perusahaan keluarga yang fokus pada bidang konten, talent management, dan event organizer. Identitas perusahaan ini sudah sangat jelas sekarang, termasuk posisi tawar dan nilai bisnisnya.

Perjalanan mencapai titik jaya sekarang tidaklah sederhana. Bayangkan saja, sekitar lima belas tahun lalu, ANTV masih menjadi televisi yang paling bontot. Vice President Director ANTV, Otis Hahijary, menyebutkan bahwa tahun 2013 sampai dengan 2017 adalah proses menuju first tier.

Ada dua prinsip yang dipegang sepanjang perjalanan mencapai posisi sekarang. Pertama, televisi ini membuat keluarga Indonesia bahagia. Di zaman apa pun, perusahaan ini harus bisa memberikan kebahagian atau hiburan kepada lintas generasi. Kedua, segala langkah yang dilakukan harus “menang-menang’. Semua pihak diuntungkan, perusahaan senang. Begitu pula dengan vendor, artis, rumah produksi, pengiklan, dan agensi periklanan.

Tahun 2018, sudah siap disambut dengan sangat optimistis. Otis menyebutkan, sudah menyiapkan berbagai program untuk tahun 2018. Program yang akan digelar, antara lain lokalisasi animasi yang berasal dari Rusia, Romania, Pakistan, dan Perancis. Selain itu, ada pula program yang benar-benar lokal.

Sebagai bisnis berbasis kreatif, tidak cukup hanya mencapai posisi saat ini. Apalagi, dinamika masyarakat sudah sangat cepat di era digital ini. Memang, sudah seharusnya perusahaan bisa membaca kondisi dan melihat masa depan yang akan menjadi kebutuhan masyarakat. Oleh sebab itu, inovasi menjadi kuncinya. Inovasi adalah DNA, demikian kata Otis.

Sebagai petinggi di VIVA Group, Anin harus dapat memastikan bisnisnya akan tetap berjaya di masa mendatang. Membaca data dan fenomena, online to offline (O2O), akan menjadi masa depan grup ini. “Kita harus berpikir O2O, di situlah uangnya,” kata Anin.

Ia mencontohkan, saat meet and greet dengan para artis dilakukan, pengalamannya tidak sebanding dengan sekadar menonton di televisi. Pengalaman langsung tidak bisa digantikan oleh tayangan film, sinetron, atau yang lainnya. Hal ini tidak bisa dilakukan oleh semua kompetitor. Bayangkan saja, program meet and greet tersebut bisa mengumpulkan 30 ribu orang. Bagi para pengiklan, instrumen ini menjadi jalur yang sangat efektif untuk berhubungan dengan mereka.

Salah satu program grup ini yang mencerminkan paradigma O2O adalah One Pride. Dalam mencari para Atlet Mix Martial Arts (MMA) Indonesia, perusahaan harus langsung ke daerah-daerah. Begitu pula saat memilih para atlet beladiri MMA, harus melihat secara langsung hasil pertandingannya di sejumlah sasana. Grup ini tidak pula menutup diri untuk mengembangkan saluran khusus olahraga.

Lebih jauh lagi, grup ini melihat Walt Disney sebagai perusahaan yang bisa menjadi patokan. Mereka memiliki sejumlah saluran televisi dengan berbagai segmen, tetapi aktivitas O2O-nya juga berjalan karena mereka memiliki taman hiburan.

Terlepas dari itu, ada beberapa hal yang tidak boleh lengah dari mata para pebisnis. Hermawan Kartajaya, pakar pemasaran, menyebutkan empat hal yang menyeramkan dalam sebuah bisnis, antara lain volatility in change, uncentainly in competitor, complexity in customers, dan ambiguity in company.

 

[ wartaekonomi ]