Kabar Kalimantan

Normalisasi Sungai Bati-bati, Golkar Kalsel Dorong Bantuan Pemerintah

 

Satumandau – Dalam masa reses, kali ini, anggota DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel) Drs Misri Syarkawi mendatangi konstituennya. Dalam kunjungannya ke Kecamatan Bati-bati, Kabupaten Tanah Laut, beliau mendapatkan masukan dari masyarakat terkait kondisi normalisasi sungai di daerah tersebut. Normalisasi sungai di wilayah mereka itu sangat diharapkan.

Masyarakat Kecamatan Bati-bati Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan mengharapkan bantuan pemerintah untuk dapat melaksanakan program tersebut. Sungai Bati-bati berposisi sejauh 35 kilometer arah timur dari Kota Banjarmasin. Agar dapat melakukan program normalisasi itu, warga berharap ada pengerukan kembali terhadap alur sungai tersebut yang terusannya sampai ke Kecamatan Kurau, Tala dan bermuara hingga ke Laut Jawa.

Masyarakat mengharapkan pengerukan alur sungai secara menyeluruh, terutama di daerah muara sungai yang mengalami pendangkalan cukup tinggi.  Menurut warga Bati-bati, lanjut wakil rakyat asal daerah pemilihan Kalsel VII/Kota Banjarbaru dan Tala itu, pengerukan sungai tersebut sangat krusial, karena daerah tersebut merupakan daerah rawan bencana.

Menurut politisi senior Partai Golkar ini, jika tanpa program normalisasi atau pengerukan sungai, maka wilayah tersebut tetap akan menjadi langganan banjir. Terlebih karena saat ini sudah masuk musim hujan. Banjir ini akan menjadi bencana yang memberikan dampak negatif cukup serius. Dampak negatif bencana banjir tersebut usaha pertanian di Bati-bati serta daerah sekitar Kecamatan Kurau menjadi tidak maksimal.

Padahal, daerah tersebut merupakan lumbung padi daerah Tala, yang pada akhirnya akan mempengaruhi kondisi ketahanan pangan regional dan nasional. Sosok mantan redaktur senior sebuah surat kabar mengatakan, bila bulir-bulir padi sudah menguning, bencana banjir tidak akan memberikan dampak yang signifikan, karena saat tersebut juga masih bisa panen. Namun, jika belum waktunya panen, maka akibatnya adalah terjadinya gagal panen.

Kendala lain pada daerah tersebut, Misri Syarkawi menambahkan, wilayah Bati-bati dan Kurau itu termasuk daerah yang terpengaruh oleh naik turunnya permukaan laut akibat pasang surut air laut. Oleh sebab itu, ketika terjadi hujan lebat atau banjir yang bersamaan dengan masuknya arus pasang air laut, maka semua kawasan persawahan akan terendam air dengan kedalaman cukup tinggi.

Yang menjadi masalah dengan daerah pasang surut air laut, Misri yang juga adalah alumnus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari Banjarmasin ini melanjutkan, ketika arus pasang turun, genangan air hampir tidak bergerak, sebab muara Sungai Bati-bati dan Kurau seakan menutup, karena pendangkalan yang tinggi akibat endapan lumpur yang menumpuk di muara sungai.

Misri Syarkawi membeberkan lebih lanjut tentang aspirasi yang beliau dapatkan dari masyarakat, bahwa selain masalah normalisasi sungai, persoalan atau aspirasi lain yang masyarakat sampaikan kepadaanya pada umumnya merupakan kewenangan pemerintah kabupaten (Pemkab) Tala dalam penanganannya, seperti masalah perbaikan infrastuktur jalan desa. [ ]