Kabar Kalimantan

Neni Moerniaeni, 16 Inovasi Pelayanan Publik Menakjubkan dari Politisi Golkar Bontang

SATUMANDAU Pada Pilkada Bontang 2015 lalu, melalui jalur independen, Neni Moerniaeni terpilih sebagai Wali Kota Bontang. Seiring dengan perjalanan waktu, tokoh perempuan Golkar Bontang ini mengeluarkan berbagai gebrakan menakjubkan untuk memajukan daerah Bontang. Tidak tanggung-tanggung, terhitung sudah ada 16 inovasi publik yang sudah dikeluarkannya. Kebijakan-kebijakan tersebut pun mendapat perhatian dan apresiasi dari Kementerian Dalam Negeri.

Berbagai kebijakan Neni Moerniani mendapatkan apresiasi berupa penghargaan Innovative Government Award (IGA) 2017 dari Kementerian Dalam Negeri. Hal ini sebenarnya tidak mengherankan, karena Neni Moerniaeni adalah salah seorang sosok politisi wanita tangguh di Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim). Ketangguhannya itu didapatkannya melalui perjalanan hidup yang penuh warna warni.

Neni Moerniaeni merupakan Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, tahun 1989. Politisi Golkar ini pernah menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman, Samarinda, Kaltim. Selain menjadi dosen, dirinya juga menjadi dokter umum di Rumah Sakit Umum Wahab, Samarinda.

Ketika suaminya, Andi Sofyan Hasdam, terpilih menjadi Wali Kota Bontang selama dua periode, yakni 2001-2006, dan 2006-2011, praktis aktivitasnya pun semakin bertambah. Dalam periode 2001-2011, Neni aktif terlibat di banyak organisasi. Diantaranya, menjadi Ketua Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Bontang, Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Bontang, dan Ketua Forum Pemberdayaan Penyandang Cacat Bontang.

Neni pun terbawa arus politik dengan mengikuti jejak suaminya bergelut di dunia politik. Aktivitas yang dilakoni Neni di Partai Golkar juga tidak tanggung-tanggung dalam meraih posisi dan prestasi. Dirinya menjadi Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Golkar Bontang. Pada Pemilu 2009, melalui Partai Golkar, Neni Moerniaeni terpilih menjadi anggota DPRD Bontang, dan berhasil menjabat sebagai Ketua DPRD Bontang periode 2009-2014.

Pencapaiannya di bidang politik terus bertambah. Dalam Pemilu 2014, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar memberi kepercayaan kepada Neni untuk menjadi calon anggota legislatif (caleg) dari daerah pemilihan (dapil) Kaltim dengan nomor urut 5. Hasilnya, politisi perempuan kelahiran Jakarta, 30 Juli 1960 ini meraih 61.405 suara. Dengan pencapaian tersebut, Neni Moerniaenii berhasil mewujudkan obsesinya menjadi anggota DPR RI untuk periode 2014-2019.

Sosok ibu tiga anak ini pada awalnya bertugas di Komisi VII. Komisi tersebut membidangi energi dan sumber daya mineral (ESDM) dan lingkungan hidup. Kemudian, Neni dimutasi ke Komisi XI yang membidangi keuangan, perbankan, dan perencanaan pembangunan.

Pada ajang Pilkada Bontang 2015, Neni memutuskan untuk terjun langsung sebagai peserta. Tidak tanggung-tanggung, untuk memperlihatkan keseriusannya maju sebagai calon Wali Kota Bontang, pada 10 Juni 2015 Neni Moerniaeni mengundurkan diri dari keanggotaannya sebagai anggota DPR. Pada pilkada tersebut, Neni berpasangan dengan Basri Rase.

Langkah Neni di Pilkada 2015 tidaklah semudah yang dibayangkan. Langkah Neni tersebut tidak mendapatkan dukungan dari DPP Golkar. Pada saat itu, Partai Golkar dan semua partai politik mendukung pasangan calon petahana, Adi Darma-Isro Umarghani. Namun, hasilnya cukup mengejutkan. Pasangan Neni-Basri yang maju lewat jalur independen mampu mengalahkan Adi-Isro. Neni-Basri memperoleh 44.300 suara atau 35,7 persen, sedangkan Adi-Isro mendapat 35.018 suara (28,2 persen).

Kepemimpinan duet Neni-Basri dalam membangun Kota Bontang mampu menuai prestasi. Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang meraih peringkat I pada Smart Region Maturity Index (SRMI) 2016. Di ajang SRMI ini Bontang cukup mengagumkan, karena mengalami peningkatan yang signifikan. Pada tahun 2015 Bontang bertengger di posisi 5 besar. Satu tahun kemudian, pada 2016 Kota Bontang berhasil meraih peringkat pertama dengan menyingkirkan 40 kota se-Indonesia.

Penghargaan ini, menurut Neni Moerniaeni, mempertegas komitmen pemerintah untuk mewujudkan program Smart City. Neni mengatakan bahwa Smart Region adalah untuk memberikan kebaikan bagi masyarakat. “Smart Region dibangun untuk mencapai kehidupan masyarakat yang lebih aman, lebih mudah, lebih sehat, dan lebih makmur dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, serta inovasi yang diarahkan untuk perbaikan kinerja, mengurangi biaya dengan melibatkan partisipasi masyarakat,” demikian Neni memberikan penjelasan.

Neni pun sangat mensyukuri pencapain tersebut. “Alhamdulillah, penghargaan ini bukti program Smart City sudah mendapat apresiasi dari pusat, di saat program ini sedang on the track. Tentu penghargaan ini menjadi tolak ukur di mana yang menjadikan studi ini memiliki kelebihan dari studi tentang pemeringkatan daerah lainnya karena telah memanfaatkan metode big data analytic yang dikembangkan oleh Citiasia,Inc. yang disebut Big CAT (Citiasia Tools for Big Data Analytic).

Metode tersebut memungkinkan pengolahan data dengan cepat. “Hal ini memungkinkan diolahnya data yang berskala masif dan beragam secara cepat dan akurat,” demikian Neni memberikan penjelasan saat menerima penghargaan tersebut di Hotel Bidakara Jakarta, Selasa, 29 November 2016, lalu. Ditambahkannya, pada Smart Region Index, terdapat enam dimensi yang diukur, yaitu dimensi smart governance, smart branding, smart living, smart society, dan smart environment.

Bontang juga berhasil memperoleh penghargaan dari Pemerintah RI atas keberhasilannya menyusun dan menyajikan Laporan Keuangan Tahun 2016. Prestasi tingkat nasional tersebut adalah capaian standar tertinggi dalam sistem akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah. Penghargaan tersebut ditandatangani Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati diserahkan Kepala Kanwil DJPb Kaltim Midden Sihombing kepada Neni Moerniaeni dalam acara Evaluasi Penyaluran Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik di Rumah Jabatan Wali Kota Bontang, Kamis (23/11/2017), lalu.

Pencapaian lainnya, Bontang menyabet Innovative Government Award (IGA) yang digelar Kementerian Dalam Negeri tahun 2017. Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menyerahkan penghargaan ini kepada Neni di Puri Agung Hotel Sahid Jaya, Senin (18/12/2017). Penghargaan tersebut diberikan terhadap 16 inovasi yang telah dilakukan Pemkot Bontang dalam menyediakan pelayanan publik sesuai kebutuhan masyarakat Bontang.

Inovasi-inovasi yang membanggakan Kota Bontang tersebut antara lain Program Pendidikan Anak-anak Pulau (Prodikau), Internet Gratis bagi Komunitas Nelayan Kepulauan dan Pesisir (Interkoneksi), Perizinan Jemput Bola (Papi Jempol), dan Sistem Administrasi Pelayanan Masyarakat Tanpa Menunggu (Sapa Ratu). Prestasi hebat berikutnya yang diukir Neni adalah keberhasilannya menurunkan angka kemiskinan di daerahnya. Angka kemiskinan pada tahun 2015 tercatat sebanyak 6.077 Kepala Keluarga (KK). Setahun berikutnya menurun menjadi 5.725 KK pada 2016. Terjadi pengurangan kemiskinan 352 KK. Beberapa program pengentasan kemiskinan yang dilakukannya, antara lain Program Keluarga Harapan (PKH), penyaluran beras sejahtera. [ ### ]