Nusantara

Menurut Mahyudin, Konsep Ekonomi Islam Junjung Tinggi Keadilan

 

SATUMANDAU Sejak lama, konsep ekonomi Islam yang telah dijalankan dapat terus berlanjut hingga masa kini karena memberikan rasa adil bagi pelakunya. Konsep ekonomi Islam menjunjung tinggi bagi semua pihak agar tidak ada yang merasa dirugikan. Hal tersebut diungkapkan oleh Mahyudin pada Senin (5/2/2018).

Bertempat di Ruang GBHN, Gedung Nusantara V, Kompleks Gedung MPR/DPR/DPD, Senayan, Jakarta, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Mahyudin membuka acara konferensi internasional. Konferensi internasional atau International Conference tersebut bertema Islamic Economic System in Answering Global Economic Challenge.

Beberapa nama yang cukup terkenal dalam bidang ekonomi Islam menjadi narasumber hadir dalam konferensi internasional tersebut. Tokoh-tokoh tersebut antara lain, ekonom Departemen Ekonomi Keuangan Syariah Bank Indonesia Prayudhi Azwar, Ketua Program Sarjana Muda Pengurusan Pembangunan Islam Brunei Darussalam Shereeza binte Mohammed Sanifi, dan Guru Besar Sains Malaysia Muhammad Syukri Salleh.

Mahyudin mengungkapkan bahwa sebenarnya sistem perekonomian Islam dalam alur sejarah sudah dimulai sejak lama. Menurutnya, jika mempelajari sejarah Islam, konsep perekonomian Islam telah muncul melalui konsep perekonomian yang diterapkan Nabi Yusuf dalam mengelola perekonomian Mesir pada masa itu.

Dalam acara konferensi internasional tersebut, Mahyudin mengungkapkan konsep yang dipergunakan oleh Nabi Yusuf. Konsep ekonomi yang digunakan dalam pengelolaan ekonomi Mesir adalah ekonomi syariah dan itu terbukti yang menyelamatkan Mesir dari bencana kelaparan dan paceklik. “Karena dalam mimpi Nabi Yusuf Mesir akan mengalami masa panen besar selama tujuh tahun dan masa paceklik selama tujuh tahun, konsep syariah yang diterapkan dengan baik Nabi Yusuf mampu mengatasi masa paceklik tersebut,” demikian ujar Mahyudin dalam penjelasannya.

Lebih lanjut, Mahyudin mengungkapkan bahwa sebenarnya negara-negara Asia seperti Indonesia ini jika mampu mengadopsi konsep syariah dalam perekonomian negaranya akan mampu mengatasi masa krisis. Sebab selain manajemen pengelolaan yang baik, sistem ekonomi syariah juga memberikan keadilan untuk para pelaku ekonomi tersebut, termasuk masyarakat.

Pada waktu masa krisis tahun 1998 menimpa Indonesia, perekonomian Indonesia mengalami kehancuran, babak belur. “Seharusnya kita belajar dari sejarah ekonomi Islam, bagaimana mengelola tahun-tahun makmur dan bagaimana mengelola tahun-tahun krisis. Semestinya hal ini bisa menjadi bahan kajian baik di Indonesia maupun negara Malaysia, Brunei dan negara lainnya,” demikian menurut Mahyudin, memberikan pandangannya tentang kemungkinan mengaplikasikan ekonomi Islam pada Indonesia dan negara di Asia Tenggara..

Menurut Mahyudin, sebenarnya Indonesia sudah mengimplementasikan ekonomi kerakyatan salah satunya melalui koperasi. Koperasi, lebih lanjut Mahyudin mengungkapkan, sebenarnya adalah bentuk ekonomi syariah. Sayangnya, walaupun menganut ekonomi kerakyatan, dalam prakteknya Indonesia lebih banyak menggunakan mekanisme pasar yang merupakan ciri kapitalisme.

Mahyudin mengajak agar menyadari¬† pentingnya menciptakan rasa adil bagi seluruh rakyat Idonesia. “Dari situlah mestinya tumbuh kesadaran kuat dari kita semua untuk bisa menciptakan rasa adil buat semua rakyat Indonesia.. kajian-kajian ini sangat penting sebagai bahan masukan pengambil kebijakan demikian tegas Mahyudin.

Mahyudin mengatakan bahwa kapitalisme sangat berbahaya sebab hanya memihak kepada pemilik modal dan mengeksploitasi kaum pekerja. Sehingga, dari kapitalisme munculah kesenjangan yang sangat besar, ada yang kaya sekali ada yang miskin sekali. Karena itu Mahyudin meyakini bahwa ekonomi syariah sistem ekonomi yang bisa memberikan rasa keadilan bagi seseorang dan semua orang.  {@@}