Kabar Kalimantan

Kecam Panjat Pinang Waria, Golkar Sebut Melawi Bukan Daerah Bodoh dan Terbelakang

SATUMANDAU – Perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia identik dengan permainan rakyat seperti misalnya lomba tarik tambang, balap karung, gebuk bantal, makan kerupuk, panjat pinang dan sebagainya selalu menghiasi perayaan HUT RI seantero bumi nusantara Indonesia.

Momen perayaan kemerdekaan RI ke-73 ini juga terasa di Kabupaten Melawi, dimana Pemerintah setempat bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK dan Dharma Wanita Persatuan menggelar sejumlah kegiatan yang diantaranya lomba senam syantik, permainan rakyat (tarik tambang, balap karung, gebuk bantal, makan kerupuk, panjat pinang) dan lomba nyanyi tembang kenangan lansia, seperti tertera didalam brosur yang disebarkan Humas Pemerintah Kabupaten Melawi melalui media sosial.

Namun ada yang sedikit unik bin aneh pada permainan rakyat yang bakal digelar ini. Pasalnya, lomba panjat pinang tersebut terdapat kategori peserta untuk kaum waria, dimana lomba panjat pinang pada umumnya diikuti oleh pria, wanita dan tak jarang pula ditemukan lomba panjat pinang untuk anak-anak.

Kategori peserta untuk waria dalam lomba panjat pinang ini lantas menimbulkan polemik, pro kontra di masyarakat bahkan Ketua DPRD Melawi, Abang Tajudin turut memberi komentar.

Abang Tajudin menegaskan bahwa dirinya tidak setuju apabila kaum waria mengikuti perlombaan tersebut.

Tajudin mengatakan sebagai daerah di Provinsi Kalimantan Barat, Kabupaten Melawi bukanlah daerah yang bodoh dan terbelakang, apalagi pengecut. Ia menilai persoalan waria menyangkut moral yang ada di Indonesia, karenanya tak pantas apabila dipertontonkan ke masyarakat.

“Keikutsertaan kaum waria ikut lomba panjat pinang, artinya Pemkab Melawi menyetujui segala bentuk legalitas waria di Melawi. Saya menolak kegiatan lompa panjat pinang ini mengikutsertakan para waria, partisipasi mereka untuk menonton silahkan saja, karena itu hak mereka. Sepatutnya kita menyadari bahwa kebodohan sebagian besar daerah ini dalam memperingati HUT RI kali ini patut dikritisi, karena tak sesuai dengan momentum hari kemerdekaan,” tegasnya.

Partisipasi waria memeriahkan lomba panjat pinang, kata Tajudin, merupakan kegiatan bodoh yang tak sejalan dengan semangat bangsa Indonesia sebagai bangsa bermoral dan bermartabat.

“Justru ini mempertontonkan hiburan tak mendidik bagi generasi daerah hingga mempermalukan diri sendiri,” tukasnya.

Legislator Golkar ini menyesalkan dalam kegiatan-kegiatan mengisi perayaan HUT RI di Melawi kali ini, Pemkab justru memproklamirkan diri sebagai daerah yang mundur dan tak bermoral, yang lebih gemar mempertontonkan hal yang tak mendidik bagi anak-anak tanpa berfikir lebih dalam efeknya.

“Saya minta kepada pihak panitia untuk membatalkan waria mengikuti lomba panjat pinang itu, berpartisipasi menonton silahkan saja,” tegasnya.

“Memalukan untuk daerah dan bangsa ini, tidak mendidik sama sekali. Lomba seperti itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan peringatan HUT RI, daerah ini sudah bermartabat, jangan dibikin lagi menjadi daerah yang mundur. Tidak ada unsur pendidikan,” ungkapnya.

Tajudin menambahkan, bahagia menjadi bangsa yang merdeka itu sah-sah saja, tetapi tak harus juga dengan kegiatan seperti itu. Ia menilai hal ini melecehkan semangat para pejuang yang merebut kemerdekaan.

“Satukan tekat dan semangat, perayaan kemerdekaan di Melawi melalui kegiatan bermoral dan mendidik,” tandasnya.

sumber berita