Nusantara

Harga BBM Naik, Pengamat Nilai Pemerintah Panik

SATUMANDAU – Pengamat Kebijakan Publik dari Budgeting Metropolitan Watch (BMW) Amir Hamzah menilai langkah pemerintah dan Pertamina yang menaikkan harga BBM non subsidi sebagai langkah panik menyusul tagihan hutang luar negeri yang jatuh tempo. amir menyebut, pemerintah mengambil langkah tidak tepat dengan menaikkan harga BBM secara diam-diam.

“Pemerintahan Jokowi panik luar biasa karena utang luar negeri yang jatuh tempo,” kata Amir.

Ia mengungkapkan, hutang jatuh tempo yang harus dibayarkan pada Juli 2019 mendatang adalah sekitar Rp 810 triliun. Artinya setiap bulannya wajib mencicil Rp 70 triliun.

“Bagimana cara gampang cari uang? Salah satunya menaikan harga BBM. Pemerintah tidak peduli kesengsaraan rakyat,” ujar Amir.

Disisi lain, Pengamat Ekonomi Energi UGM, Fahmi Radhi menilai sebaliknya. Fahmi mengatakan kenaikan harga Pertamax dan BBM jenis non subsidi tidak akan mempengaruhi inflasi. Sebab, kenaikan yang berkisar antara Rp 600 hingga Rp 900 per liter tidak terlalu besar.

Ia menilai menilai, keputusan Pertamina menaikkan harga BBM nonsubsidi merupakan langkah yang wajar. Sebab, saat ini harga minyak dunia sudah mencapai 70 dolar per barel. Artinya, jika Pertamina tidak menaikkan harga jual maka akan membuka peluang potential lost keuangan Pertamina.

“Ini sebagai upaya untuk mengurangi potensial lost keuangan Pertamina. Harga minyak dunia terus merangkak naik,” ujar Fahmi.

sumber berita