Nusantara

Habibie Center Soroti Hilangnya Nilai Pancasila Dalam Ekonomi RI

SATUMANDAU – Ketua Dewan Direktur The Habibie Center Sofian Effendi menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia terus mengalami perlambatan meskipun mampu mencapai puncak pertumbuhan tertinggi pada 2017 sebesar 5,07 persen.

Hal itu, menurutnya disebabkan karena hilangnya nilai-nilai pancasila dalam sistem perekonomian Indonesia, khususnya dalam mekanisme ekonomi pasarnya, sehingga Indonesia hanya bertumpu industri eksportir barang mentah dan konsumsi. Karena itu, lanjut Sofian diperlukan kembali strukturalisasi sistem, melalui sistem ekonomi pasar pancasila sebagaimana yang digagas Presiden RI ketiga B.J. Habibie.

“Ekonomi kita pada 2017 sebesar 5,07 persen. Angka itu yang tertinggi dicapai sejak 2014. Indonesia juga walau sudah bagian dari trimilion dolar club tetapi kalau tidak ada terobosan ke depan maka sukar keluar dari pertumbuan rendah ini,” ungkapnya dalam seminar Ekonomi Pasar Pancasila: Jalan Baru Ekonomi Indonesia, Jakarta, Selasa 3 Juli 2018.

Dia menjabarkan, akibat dari lemahnya pertumbuhan ekonomi, menyebabkan beberapa kondisi sosial ekonomi bangsa yang mengkhawatirkan seperti rasio ketimpangan atau gini ratio yang mencapai 0,39 persen, serta penguasaan segelintir orang terhadap lahan maupun capital.

“Bahkan data menunjukan, satu persen orang terkaya di Indonesia menguasai 45 persen kekayaan nasional. Ini menunjukan ketimpangan ekonomi cukup ekstrim. Ini yang dinamakan pak Arif Budimanta sebagai oligarki ekonomi,” ungkapnya.

Karena itu, kata dia, banyak ahli yang telah merekomendasikan untuk dilakukan strukturalisasi sistem ekonomi Indonesia yang kembali pada nilai-nilai fundamentalnya. Yakni melalui sistem ekonomi pasar pancasila sebagaimana yang digulirkan B.J. Habibie.

“Yaitu ekonomi yang memiliki sejumlah prinsip dasar dari konsep pengelolaan dari kepemilikan yang terbatas harus dimanfaatkan untuk hajat hidup orang banyak dan merata,” tuturnya.

Melalui sistem itu juga, lanjut dia, maka dengan adanya pemerataan dan penguasaan kapital maupun kekayaan sumber daya alam bangsa dibanyak pihak, maka bisa mendorong industrialisasi bangsa ke arah industri strategis.

“Sistem itu mengusulkan pembangunan industri strategis sebagai ujung tombak. Kita lambat karena bukan bertumpu pada sektor barang-barang jadi. Sekarang ekonomi kita lebih banyak di drive eskpor bahan mentah dan konsumsi, sehingga industrialisasi dari segi itu kita mundur. Itu jadi salah satu sebab ekonomi kita susah tembus 5 persen,” ucapnya.

 

sumber berita