Politik

Golkar Tarakan Pilih Bacaleg Berdasarkan Kriteria Ini

SATUMANDAU – Di masa seperti sekarang ini, tiap partai politik (parpol) pasti memiliki cara jitu untuk memenangkan kompetisi Pemilihan Umum (Pemilu) 2019. Selain itu, parpol juga memiliki kriteria sendiri untuk memilih bacaleg yang akan dipasang untuk bertarung.

Namun beberapa parpol sangat anti membagikan kepada publik tentang strategi jitu tersebut. Meski demikian, tidak sedikit pula yang membagikan strategi.

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) II Partai Golkar Tarakan memilih bacaleg berdasarkan kriteria umum yakni loyalitas dan kredibilitas.

“Selain kriteria tersebut, para caleg yang bertarung nantinya juga memerlukan isi tas. Sebelum bertarungkan semua itu dibutuhkan ketika sedang sosialisasi mengkampanyekan dirinya,” kata Ketua DPD II Partai Golkar Tarakan, Tigor Nainggolan, Sabtu (11/8).

Menurut Tigor hal seperti itu adalah suatu hal yang sangat lazim dan sudah menjadi rahasia umum bagi masyarakat luas. Menurutnya tidak perlu munafik jika sebagian mengatakan isi tas tidak perlu dalam berkampanye. 

“Logika saja, sosialisasi dan kampanye kan butuh uang. Butuh isi tas. Setidaknya ada uang untuk air mineral dan snack,” jelasnya.

Tigor menjelaskan, makna isi tas yang dikatakannya, tergantung sudut pandang dan pemaknaan dari masing-masing caleg. Jika dimaknai untuk kegiatan positif seperti kampanye dan sosialisasi tentu tidak masalah. Namun, jika isi tas dimaknai calon sebagai money politic sebagai “uang sogok” tentu itu mencoreng demokrasi. 

“Di zaman sekarang tidak ada isi tas tidak bisa bergerak caleg itu. Bagaimana doa mau melakukan kegiatan yang mendulang suara jika tidak ada isi tas. Ya isi tas kan juga untuk bensinnya, menyiapkan berkas juga butuh itu semua,” jelasnya.

Tigor menambahkan, jika dalam Pemilu 2019 mendatang, pihaknya optimistis akan mampu menggapai target dengan memperoleh 6 kursi pada DPRD Tarakan. 

Ia mengungkapkan jika tidak ada dapil yang dianggapnya sebagai saingan berat. Ia juga menjelaskan jika dari 27 caleg Golkar, ada dua nama yang tergolong senior dan pemain lama. Selebihnya merupakan petarung baru. “Kita menggunakan wajah baru, 2 orang saja petarung lama karena mereka tahu strategi,” pungkasnya. 

sumber berita