Kabar Kalimantan

Golkar Kotim Tegaskan Hukuman Maksimal Bagi Pengedar ‘Obat Zombie’

SATUMANDAU Peredaran obat terlarang membuat Partai Golkar Kotim tegaskan pemberian hukuman maksimal bagi pengedar ‘obat zombie’. Gembong pengedar obat tanpa izin edar zenith carnophen alias harus mendapatkan hukuman maksimal. Harus ada efek jera bagi siapa saja yang mencoba mengedarkan barang haram itu di Kotawaringin Timur (Kotim). Dan hukuman maksimal adalah cara terbaik memberikan efek jera tersebut.

Apakah yang dimaksud dengan zenith carnophen? Walaupun namanya tidak sepopuler obat-obatan yang lain, obat zenith carnophen atau zenith kuning cukup dikenal terutama di antara mereka yang sering stress atau banyak bekerja keras. Kandungan dalam obat ini memang dikenal bisa membantu dua kondisi tersebut. Namun, sayangnya obat zenith carnophen seringkali disalahgunakan oleh sebagian orang penggunaannya sebagai obat pengganti narkoba.

Jika kebetulan menemukan anak muda berjalan dengan tatapan kosong dan seperti orang kesurupan, seperti layaknya mayat hidup alias zombie, besar kemungkinan mereka adalah pengguna “obat jin” bernama zenith. Efek samping ini pula yang menyebabkan zenith disebut sebagai ‘obat zombie’. Zenith kini menjadi kata yang sangat sering dan biasa diucapkan oleh masyarakat Provinsi Kalimantan Tengah, dan Kabupaten Kotim (Kotawaringin timur), baik anak-anak tingkat sekolah dasar hingga mahasiswa, mulai dari yang berada di perkotaan sampai pelosok desa.

Zenith seakan menjadi sesuatu yang sudah sangat akrab dengan kehidupan warga, karena kata-kata itu kini sangat mudah didapatkan dalam media massa, bahkan dalam pergaulan sehari-hari.”Men-zenith” atau mengonsumsi zenith, seakan sudah menjadi pemandangan biasa di masyarakat, saat melihat segerombolan anak muda yang berjalan dengan tatapan kosong, berjalan sempoyongan seperti sedang mabuk, melintasi perumahan warga. Bahkan, hampir tiap hari, beberapa anak muda silih berganti datang mengetok rumah warga, dalam kondisi setengah tidak sadar, berdiri tidak tegak, tangan dan kaki terlihat gemetar, datang untuk meminta uang.

Wakil Ketua DPRD Kotim, Supriadi di Sampit, pada Sabtu (16/12/2017) memberikan rekomendasi kepada para instansi dan jajaran terkait. Politisi Golkar ini salah satunya meminta kepada pihak kepolisian agar menerapkan pasal yang paling maksimal hukumannya agar memperoleh efek jera.

Modus yang kerap digunakan oleh pengedar obat terlarang ini adalah memproduksi obat yang sudah dibatalkan nomor izin edarnya. Kemudian memalsukan obat yang telah memiliki izin edar, serta mencampur bahan kimia obat dalam obat tradisional. Hal ini jelas membahayakan masyarakat yang mengkonsumsinya, karena selain memberikan efek kecanduan, juga dapat berujung pada kematian bila terjadi overdosis.

Para pelaku kejahatan ini melakukan tindakan memproduksi dan mendistribusikan produk ilegal, yang melanggar pasal 196 dan/atau pasal 197 Undang-undang No. 36 tahun 2009. Pasal tersebut mengatur tentang Kesehatan dengan ancaman pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp1,5 miliar rupiah.

Baca berita terkait Kotim lainnya :

 

Berdasarkan aturan tersebut, maka bisa diterapkan kepada para pelaku pengedar obat-obtan terlarang tersebut. Dengan demikian tidak adalah alasan bagi pihak kepolisian untuk tidak menjatuhkan pasal yang maksimal. Lebih lanjut, tidak ada alasan juga bagi pihak kejaksaan untuk tidak menuntut maksimal. Begitu juga dengan pengadilan, tidak ada alasan untuk tidak menjatuhkan hukuman maksimal sesuai dengan pasal tersebut sepanjang itu terbukti dalam proses persidangan.

Sebagai catatan, pada tahun 2013, semua obat yang mengandung carisoprodol (carnophen, somadril, rheumastop, new skelan, carsipain, carminofein, etacarphen, cazerol, bimacarphen, karnomed) yang diberikan izin edar oleh Badan POM RI dicabut izin edarnya dan tidak boleh lagi beredar di Indonesia. Diketahui produk dengan kandungan carisoprodol banyak disalahgunakan.  [ ### ]