Kabar Kalimantan

Golkar Banjarbaru Dukung Kelanjutan Program Keluarga Berencana

SATUMANDAU Legislator Golkar Banjarbaru, Iriansyah Ganie, mendukung kelanjutan program keluarga berencana di masyarakat. Menurutnya, baik anak laki-laki ataupun perempuan sama saja, dua anak cukup. H Iriansyah Ghani mengaku sepakat dengan program dua anak cukup yang dijalankan pemerintah tersebut. “Dua anak saja cukup, mau itu perempuan atau laki-laki sama saja,” demikian kata Ketua Komisi I DPRD Kota Banjarbaru.

Politisi Partai Golkar ini menjelaskan bahwa sebenarnya, program keluarga berencana sudah berlangsung sejak masa Orde Baru. Awalnya, banyak keluarga yang memiliki lebih dari tiga anak, dan mengusung filosofi ‘banyak anak banyak rejeki’. Keluarga seperti ini rutin menambah anak setiap tahun. Akhirnya, timbul ledakan penduduk yang mengkhawatirkan pemerintah. Untuk mengantisipasi ledakan penduduk tersebut, pemerintah pada saat itu meluncurkan program keluarga berencana dengan slogan kampanye ‘dua anak cukup’. Slogan ini digaungkan pemerintah, dengan salah satu tujuannya yaitu untuk kesehatan. Tujuan lainnya, agar anak mendapatkan perhatian cukup dan dapat terjamin masa depannya.

Iriansyah menambahkan, disamping cukup memiliki dua anak saja, faktor usia dalam pernikahan juga memiliki peranan penting. Sebab, menikah di usia muda penuh dengan risiko dan ketidakpastian. “Dari segi sosial, menikah di usia dini akan kesulitan mencari pekerjaan. Lantaran, mereka tak punya ijazah dikarenakan putus sekolah demi melangsungkan perkawinan,” tambahnya. Hal lainnya, anak yang dilahirkan pasangan di bawah umur berisiko memiliki kesehatan yang kurang baik. Bahkan, beberapa diantaranya ada yang cacat, karena organ reproduksi ibu berusia muda belum siap. “Untuk itu saya mengimbau bagi orangtua, jangan menikahkan anaknya di usia muda,” jelas tokoh Golkar Banjarbaru ini.

Di jaman sekarang ini, menurut legislator Golkar di DPRD Kota Banjarbaru, program tersebut belum sepenuhnya dijalankan oleh masyarakat. “Banyak yang mengaku menambah anak, karena ingin jenis kelaminnya tak sesuai keinginannya. Misal, dia punya anak tapi perempuan semuanya. Akhirnya, memilih menambah supaya dikaruniai anak laki-laki,” demikian jelas Iriansyah.

Faktor orang tua juga memegang peranan penting. Sebagian besar orangtua memilih menikahkan anaknya meski belum waktunya beralasan untuk mengurangi beban di rumah tangga. Padahal pilihan tersebut bukan jalan keluar yang baik. Jadi untuk mendukung kelanjutan program keluarga berencana, harus ada edukasi yang berkelanjutan untuk memberikan pengertian yang baik di masyarakat. [ ### ]