Nusantara

Golkar Ajak Generasi Millenial Pilih Pemimpin Karena Kemampuan, Bukan Primordialisme

SATUMANDAU Golkar ajak generasi millenial untuk memilih pemimpin berdasarkan kemampuannya, bukan karena primordialisme.

Tidak lama lagi, tahun berganti. 2017 akan berganti dengan 2018. Indonesia akan memasuki tahun-tahun politik. Sebagaimana diketahui, pada tahun 2018 akan digelar pilkada serentak di 191 daerah. Kemudian berlanjut pada tahun politik di 2019. Pada tahun tersebut akan dilaksanakan pesta demokrasi besar, yaitu dengan diadakannya Pemilu Presiden dan Pemilu Legislatif.

Berdasarkan komposisi kependudukan, generasi muda, atau lazimnya disebut generasi millenial pada saat ini, akan semakin mendominasi, dan mencapai puncaknya pada tahun 2045 dimana Indonesia disebut-sebut akan mencapai tahun emas dengan merasakan bonus demografi dari keberadaan generasi muda atau millenial tersebut.

Memperhatikan hal tersebut, Wakil Ketua MPR RI Mahyudin, melihat suara generasi millenial memang sangat luar biasa. Suara generasi millenial akan menentukan kepimpinan bangsa sekaligus menentukan kemana bangsa ini akan dibawa. Menurut Wakil Ketua Dewan Pakar Partai Golkar ini, generasi millenial adalah elemen luar biasa secara kuantitas untuk ikut berpartisipasi dalam memilih bahkan ada yang baru pertama kali ikut memilih dan memberikan suaranya.

Di hadapan 300 lebih mahasiswa di Samarinda dan anggota HMI Kota Samarinda, peserta Silaturahmi Kebangsaan bersama Wakil Ketua MPR RI Mahyudin, di aula LPMP, Samarinda, Kalimantan Timur, Sabtu (16/12/2017). Sosok politisi Golkar ini mengingatkan  generasi millenial khususnya, dan juga masyarakat secara umum untuk sangat berhati-hati dalam memberikan suaranya.

Mahyudin mengungkapkan soal pentingnya rakyat terutama generasi millenial memahami kembali Empat Pilar (Pancasila sebagai dasar negara, UUD NRI Tahun 1945 sebagai konstitusi negara, NKRI sebagai bentuk negara dan Bhinneka Tunggal ika sebagai semboyan negara). Menjadi sangat penting karena mereka ini yang akan mengisi kemerdekaan bangsa sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa yaitu Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Jangan lagi memilih pemimpin karena primodialisme karena kesukuan tapi berdasarkan kemampuan. Kita memilih Gubernur, Bupati yang kita yakini secara kepribadian memiliki kemampuan membangun daerahnya dan rakyatnya. Lihat latar belakangnya. Kalau terlibat korupsi dan kejahatan lainnya jangan dipilih. Tapi, walaupun sukunya minoritas namun memiliki kemampuan membangun daerah dan mensejahterakan rakyatnya itu yang harus dipilih,” Demikian Mahyudin menuturkan.

Masyarakat, termasuk generasi millenial didalamnya harus memilih sosok pemimpin karena yakin akan niat dan kemampuannya dalam membangun daerah dan mensejahterakan masyarakat. Jika asal memilih dan ternyata kemampuannya tidak ada, tujuan menjadi pejabat tidak jelas hanya mementingkan dirinya sendiri, maka pembangunan daerah dan kesejahteraan rakyat tidak akan tercapai. Jangan asal memilih. Jangan sampai terpilih pemimpin-pemimpin yang tidak amanah dan hanya mementingkan dirinya sendiri.

Generasi millenial, pelajar dan mahasiswa harus mulai dari sekarang  dalam mempelajari tokoh-tokoh atau calon-calon pemimpin. Perhatikan latarbelakangnya, pelajari pribadinya dan kemampuannya agar Indonesia dan rakyat Indonesia cepat maju dan sejahtera. Berpegang teguh pada Pancasila sebagai patokan dalam memilih sosok yang mampu dan memiliki niat yang baik, dan mensejahterakan masyarakat. [ ### ]