Kabar Kalimantan

Duh! Pantai Balikpapan Tercemar Tumpahan Minyak Lagi

Limbah minyak terlihat di Pantai Melawai, Balikpapan, Minggu (22/7/2018). (Sri Gunawan Wibisono /Beritagar.id)

 

SATUMANDAU – Tumpahan bahan beracun berbahaya (B3) jenis minyak kembali mengancam pantai Balikpapan di Kalimantan Timur. Limbah minyak ini terlihat di sepanjang Pantai Melawai yang berbatasan langsung dengan kawasan kilang minyak Pertamina Balikpapan.

“Sudah terlihat sejak dua hari di Pantai Melawai dan sekitarnya,” kata Dinamisator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim, Pradharma Rupang, Minggu (22/7/2018).

Pradharma mengatakan, limbah minyak sebenarnya kerap dijumpai sepanjang perairan pantai Balikpapan dalam sepuluh tahun terakhir. Miminal, ada satu laporan soal itu dalam kurun satu tahun.

“Laporan soal temuan limbah minyak sudah ada sejak lama, tapi tidak diketahui siapa pelakunya,” katanya.

Namun, dalam dua tahun terakhir, menurut Pradharma, kasus tumpahan minyak selalu akibat kelalaian Pertamina. Kasus pertama adalah kegiatan pembersihan tangki Pertamina yang limbahnya terbuang di perairan sekitar pada Mei 2017.

Kasus kedua, tentu saja paling menghebohkan, adalah ketika pipa minyak mentah Pertamina di dasar laut bocor pada April 2018. Akibatnya 5.000 kilo liter minyak mentah mencemari 13 ribu hektare kawasan perairan Teluk Balikpapan dan sekitarnya.

Lantaran itu pula, Pradharma langsung menuding Pertamina sebagai pelaku pencemaran minyak yang terbaru ini. Pradharma menilai perusahaan BUMN ini layak dituding karena lokasi temuan minyak tepat bersebelahan dengan kawasan kilang minyak Balikpapan.

“Lokasinya berada di kawasan Pertamina, pasti mereka, siapa lagi ?” tukasnya.

Adanya rentetan tiga kasus pencemaran ini, Pradharma pun menyoroti kelalaian Pertamina yang berulang kali melanggar aturan keselamatan migas. Ia meminta pemerintah segera mengevaluasi total standar operasional prosedur berikut peralatan Pertamina Balikpapan.

“Semestinya keberadaan operasi Pertamina di Teluk Balikpapan dievaluasi ulang, kalau perlu dihentikan sementara. Sudah keterlaluan dan tidak belajar dari kesalahannya,” sesalnya.

Jatam Kaltim meminta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melayangkan gugatan kerusakan lingkungan kepada Pertamina. Gugatan ini diharapkan bisa memberikan efek jera dan benar-benar meningkatkan profesionalisme kerja Pertamina.

“Kerusakan lingkungan di perairan Teluk Balikpapan sudah terjadi, kawasan hutan bakau mati, dan empat titik terumbu karang juga sudah hancur akibat tumpahan minyak mentah Pertamina,” ungkapnya.

Kemeterian KLHK sudah menerjunkan tim penegakan hukum untuk menginvestigasi tumpahan minyak mentah di pantai Balikpapan ini. Sementara ini mereka sedang mengumpulkan barang bukti dan keterangan (pulbaket) kandungan zatnya untuk penyelidikan lebih lanjut.

Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Kalimantan, Tri Bangun Laksono.Laksono, mengatakan bahwa barang bukti itu akan dibawa ke laboratorium dan nanti akan diketahui apa jenisnya serta dari mana asal produksinya.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Balikpapan turut pusing dengan kejadian pencemaran terbaru. Apalagi mereka tidak memiliki kontrol untuk mendeteksi siapa dalang di balik pembuangan limbah B3 ini.

“Bisa jadi pelakunya adalah kapal kapal yang sering lewat di perairan sini. Harus diakui pula penanganan limbah B3 ini butuh biaya besar dan cara paling mudah adalah langsung membuangnya ke laut,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan, Suryanto.

Pemkot Balikpapan pun sudah meminta foto citra satelit dari Lapan yang sesuai dengan dugaan terjadinya tumpahan minyak di Pantai Melawai. Foto dari luar angkasa diharapkan bisa menunjukkan sumber titik awal tumpahan minyak Teluk Balikpapan.

“Fotonya pastinya akan terlihat pusat tumpahan minyak, nanti disesuaikan dengan data KSOP (Kantor Syahbandar Otoritas Pelabuhan) Balikpapan tentang titik koordinat kapal-kapal,” tegasnya.

Sedangkan untuk langkah antisipasi pada masa depan, Suryanto mengusulkan pemasangan camera CCTV di sepanjang jembatan yang menghubungkan Balikpapan dan Penajam Paser Utara.

Kebetulan jembatan sepanjang 5 km yang membelah Teluk Balikpapan ini memang sedang dibangun untuk menyingkat jarak antardua kota. “Nanti akan kami pasang CCTV di jembatan ini bila pembangunannya terlaksana. Agar kontrol pengawasan semakin mudah,” tutur Suryanto.

Bagaimana dengan Pertamina? Mereka pun langsung kalang kabut dengan peristiwa ini. Mereka langsung memeriksa satu demi satu instalasi distribusi minyak mentah di kilangnya dan mereka pun prihatin dengan keberadaan limbah minyak di Balikpapan.

Manager Communication & CSR Pertamina Kalimantan, Yudi Nugraha, mengatakan belum menemui kebocoran pipa. Namun, Yudi pun pasrah dengan tindakan investigasi KLHK. “Mudah-mudahan bukan dari kilang Pertamina Balikpapan,” katanya.

sumber berita