Nusantara

BPS Catat Inflasi Masa Lebaran Paling Rendah Sejak 2011

SATUMANDAU – Kepala Badan Pusat Statistik, Suhariyanto, mengatakan inflasi Juni 2018 yang mencapai 0,59 persen merupakan inflasi terendah masa lebaran sejak 2011.

Dia menjabarkan, BPS telah mencatat, inflasi selama lebaran pada 2017 yang jatuh Juni mencapai 0,69 persen, sama dengan masa lebaran pada Juli 2016 yang sebesar 0,69.

Kemudian, untuk inflasi lebaran di 2015 yang jatuh pada Juni, mencapai 0,93 persen, sedangkan pada masa lebaran 2014 yang jatuh pada Juli sebesar 0,93 persen. Adapun untuk masa lebaran Agustus 2013 mencapai 1,12 persen, serta pada 2012 yang jatuh pada Agustus 0,95 persen.

“2010 itu bulan September 0,44 persen. Jadi sejak 2011 ini yg terendah. Saya bicarakan lebaran ya,” ucap Suhariyanto saat ditemui di kantornya, Senin, 2 Juli 2018.

Suhariyanto mengungkapkan, rendahnya inflasi lebaran pada bulan dan tahun ini dibandingkan dnegan masa lebaran sebelum-sebelumnya adalah karena dipicu oleh harga bahan makanan yang mampu dijaga pemerintah sehingga bisa stabil.

“Kita sudah menduga bahwa daging beku akan naik harganya, daging sapi, makanya kita melakukan impor jauh-jauh hari. Terlihat dari angka impor beras juga terjaga. Saya pikir komoditas sangat terjamin, jadi antisipasi dari pemerintah dan juga berbagai kebijakan BI saya pikir sangat membantu,” ungkap dia.

Sebagai informasi, berdasarkan data BPS untuk komoditas dominan dari bahan makanan yang memberikan andil deflasi yakni telur ayam ras dan cabai merah yang masing-masing sebesar 0,03 persen serta beras dan bawang putih yang masing-masing sebesar 0,01 persen.

“Dari 11 subkelompok pada kelompok bahan makanan, 3 subkelompok mengalami deflasi, yaitu subkelompok telur, susu, dan hasil-hasilnya sebesar 1,20 persen dan terendah subkelompok bumbu-bumbuan sebesar 0,55 persen,” paparnya.

Sedangkan, untuk komoditas dominan yang memberikan andil inflasi pada Juni 2018, yaitu ikan segar sebesar 0,08 persen, daging ayam ras 0,03 persen, ayam hidup, daging ayam kampung, daging sapi, ikan diawetkan, kacang panjang, petai, tomat sayur, tomat buah, bawang merah cabai rawit, dan kelapa masing-masing 0,01 persen.

“Delapan subkelompok yang mengalami inflasi tertinggi yaitu subkelompk sayur-sayuran sebesar 2,86 persen dan terendag subkelompok kacang-kacangan sebesar 0,36 persen,” ujarnya menambahkan.

Karena itu, dengan mampu terjaganya inflasi pada Juni 2018 yang merupakan bulan puncak inflasi akibat masa Lebaran. Suhariyanto mengharapkan inflasi sepanjang 2018 mampu terjaga sesuai dengan target pemerintah, sebab berdasarkan pola sepanjang tahun, menurut dia inflasi puncak hanya terjadi saat masa Ramadhan dna Lebaran serta bulan diakhir tahun, yakni Desember.

“Inflasi puncak biasanya Ramdhan-Lebaran, serta yang perlu di jaga adalah diakhir tahun, yakni dibulan Desember 2018. Tetapi dengan melihat apa yang terjadi saat ini, saya yakin akan terus terjaga dan sesuai sasaran,” ungkapnya.

sumber berita