Nusantara

Bank Indonesia Tegaskan Perbankan Tak Ada Alasan Naikkan Bunga Kredit

SATUMANDAU – Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menegaskan, meskipun BI kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 4,75 persen, tidak ada alasan bagi perbankan untuk berlomba-lomba turut menaikkan suku bunga kredit.

Dia menjelaskan, hal itu disebabkan karena likuiditas rupiah dan valuta asing atau valas saat ini cukup untuk menjaga tingkat suku bunga di pasar uang antarbank. Sehingga, tidak perlu ada suatu kekhawatiran dan muncul informasi bahwa likuiditas ketat, yang menyebabkan perbankan mesti turut menaikkan suku bunga kreditnya.

Lebih lanjut, menurutnya, proses transmisi kenaikan suku bunga acuan terhadap kredit perbankan pun memakan waktu cukup panjang, yakni 1,5 tahun. Di mana, suku bunga acuan akan terlebih dahulu memengaruhi suku bunga Pasar Uang Antarbank (PUAB).

Setelah itu, baru ke suku bunga deposito, ke kredit, dan terakhir berdampak ke ekonomi. Sehingga, tidak serta merta perbankan harus melakukan kenaikan suku bunga kreditnya.

“Kalau likuiditas cukup, tidak ada alasan perbankan untuk berlomba-lomba menaikkan suku bunganya. Karena itu, mestinya suku bunga kredit tidak ada kenaikan,” ujar Perry di Gedung BI, Rabu 30 Mei 2018.

Apalagi, Perry mengungkapkan, ketika BI melakukan penurunan suku bunga acuan sejak 2016, yang mencapai 200 basis poin, perbankan tidak mengikuti untuk melakukan penurunan suku bunga kreditnya.

Di samping itu, Otoritas Jasa Keuangan juga telah berkomitmen untuk melakukan efiseinsi di perbankan yang bisa mendukung intermediasi perbankan itu sendiri.

“Kami akan koordinasi dengan OJK bahwa memastikan kenaikan suku bunga ini tidak perlu serta merta diikuti kenaikan suku bunga deposito atau suku bunga kredit. Dan, ini tentu akan mendukung intermediasi perbankan,” tegasnya.

sumber berita