Opini

Bangun Perbatasan Kaltara, Perjuangan Hetifah Selaras Nawacita

SATUMANDAU – Nawacita, sebagian menuliskannya terpisah nawa cita, adalah istilah serapan dari bahasa sanskerta. Nawa  artinya sembilan, dan cita artinya harapan, agenda, atau keinginan. Gelora Nawacita ini dihembuskan oleh pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla, yang merupakan paparan sembilan agenda pokok visi dan misi pemerintahan yang dijalankan oleh mereka.

Nawacita adalah penjabaran untuk melanjutkan semangat perjuangan dan cita-cita Presiden pertama RI Soekarno yang dikenal dengan istilah Trisakti. Trisakti digaungkan oleh Soekarno dan terdiri dari tiga hal, yakni berdaulat secara politik, mandiri dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Semangat Trisakti inilah yang ingin diwujudkan oleh pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, Program ini digagas untuk menunjukkan prioritas jalan perubahan menuju Indonesia yang berdaulat secara politik, serta mandiri dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Poin ketiga dari Nawacita, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Poin ini benar-benar diterapkan oleh Hetifah Sjaifudian dalam memperjuangkan pembangunan di Provinsi Kaltara. Kaltara memiliki garis perbatasan cukup panjang melintasi wilayah Sabah dan Serawak, Malaysia bagian timur, dengan panjang perbatasan sekitar 1.000 Km.

Kalimantan Utara (Kaltara) sebagai Provinsi termuda atau ke-34 ini berbatasan udara, darat, dan perairan dengan Malaysia bagian timur. Garis perbatasan yang panjang ditambah dengan kondisi  geografis berat. Medan berbukit-bukit dan banyak lembah. Kondisi ini semakin ‘lengkap’ dengan keterbatasan infrastruktur perbatasan.

Melihat kondisi demikian, wajar sudah seharusnya wilayah perbatasan mendapat perhatian khusus. Kawasan perbatasan adalah ‘beranda negara’dan pembangunan di kawasan perbatasan sudah selayaknya tidak dilupakan. Kepedulian Hetifah untuk mendorong kemajuan daerah-daerah perbatasan Kaltara terus diupayakannya dengan mengingatkan Pemda terus melakukan inovasi pemerintahan.

“Di Dapil kami Kaltara, pemerintah berusaha mengembangkan infrastruktur telekomunikasi. Dengan pengembangan ini akses internet semakin mudah dan dimanfaatkan untuk efektivitas pelayanan publik,” ujarnya pada pertengahan Agustus 2017. Tidak hanya itu, Hetifah juga ingin mempercepat pembangunan bandara di wilayah perbatasan dan infrastruktur lainnya yang menjadi prioritas.

Hetifah aktif turun di Dapil Kaltara untuk bertemu langsung dengan masyarakat dan menyerap langsung suara-suara dari perbatasan. Berbagai hambatan, masukan akan diteruskannya kepada pemerintah. Pembangunan di wilayah perbatasan jelas bertujuan untuk memperkuat ketahanan nasional. Masyarakat perbatasan yang sejahtera, dengan pembangunan yang berkesinambungan akan mewujudkan poin ketiga program Nawacita pemerintahan Jokowi-JK.

Tidak banyak tokoh yang menyuarakan aspirasi masyarakat perbatasan Kaltara. Hetifah adalah satu dari sedikit sosok itu, dan masyarakat Kaltara pun tahu betul mereka memiliki seorang sosok yang mampu membela kepentingan demi mewujudkan pembangunan dan kemajuan, khususnys di kawasan perbatasan Provinsi Kaltara. ###