Kabar Kalimantan

Arang Jau, Politisi Golkar Kutim: KEK Kipi Maloy Tumbuhkan Ekonomi

 

Satumandau – Dalam rapat paripurna Kabupaten Kutai Timur (Kutim) Fraksi Golongan Karya (F-PG) memberikan pandangan terkait Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kipi Maloy Batuta. F-PG menganggap penting Raperda tentang Pembentukan Kelembagaan Administrator kawasan tersebut untuk dijadikan sebagai produk hukum.

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kipi Maloy Batuta Trans Kalimantan tersebut merupakan usulan dari Pemkab Kutim. Kipi Maloy Batuta merupakan proyek penting, pasalnya Kipi Maloy adalah bagian utama dan terpenting dari kerangka kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Kutim melalui ekspansi industri ekspor.

Keberadaan KEK dapat menciptakan industri yang kompetitif dalam sebuah daerah, dalam hal ini Kabupaten Kutim. Arang Jau memberikan paparan tentang hal tersebut saat berlangsungnya rapat Paripurna terhadap empat rancangan peraturan daerah Kabupaten Kutai Timur di ruang sidang DPRD Kutim, pada hari Selasa (14/11/2017).

Arang Jau menjelaskan bahwa kawasan Industri ini kemudian dapat meluas dan bervariasi. Kawasan Ekonomi Khusus pada akhirnya akan mendorong terciptanya lowongan kerja di berbagai sector. Sektor-sektor tersebut meliputi sektor teknik dan konstruksi, jasa (misalnya restoran dan transportasi), serta utilitas lokal (misalnya air dan listrik).

Selain itu, Kawasan Ekonomi Khusus juga akan memberikan berkontribusi terhadap pengembangan dan pembangunan human capital atau sumber daya manusia (SDM). Tenaga kerja lokal akan mendapatkan keahlian selama mereka bekerja. Pembangunan SDM lebih kuat terutama bagi perusahaan yang menyediakan pelatihan tambahan.

Peningkatan standar pendidikan di Kipi Maloy akan terjadi, mengingat hal tersebut dilakukan untuk memenuhi standar permintaan perusahaan, serta memberikan manfaat melalui transfer teknologi dan manfaat lain, seperti datangnya modal dari luar negeri.

Sementara Kipi Maloy menurut legislator Golkar ini nantinya memungkinkan para perusahaan domestik bisa lebih belajar banyak dari perusahaan luar negeri. Sebagai contoh, pada industri-industri yang ada untuk belajar hal-hal terkait modal dan teknologi, perusahaan multinasional luar negeri akan menyediakan teknologi kepada produsen.

Pada teknologi yang lebih rendah seperti industri padat karya, jaringan produksi tetap akan tersentralisasi. Hal ini akan memaksa produsen di dalam Kawasan Ekonomi Khusus untuk mengatur teknologi dan teknik produksi sendiri yang menyebabkan adanya peningkatan teknologi secara berkelanjutan dan berkesinambungan. [ ]